Synthesis and study of cholosubstituted 4-aroyl pyrazolines and isoxazolines and their effects on inorganic ions in blood serum in albino rats

AMOL D. BHOYAR, GANESH N. VANKHADE, PRITHVISIGH R. RAJPUT

Abstract. Bhoyar AD, Vankhade GN, Rajput PR. 2011. Synthesis and study of cholosubstituted 4-aroyl pyrazolines and isoxazolines and their effects on inorganic ions in blood serum in albino rats. Nusantara Bioscience 3: 118-123. Condensation of 2-substitutied 3,5-dichloroacetophenones (2a-b) obtained from the condensation of 2-hydroxy 3,5-dichloro-acetophenone (1) and benzoyl chloride were dissolved in NaOH, on treatment under Baker-Venkatraman transformation in presence of KOH with pyridine gives 1-(2-hydroxy-3,5-dichlorophenyl)-3-substituted-1,3-propanediones (3a-b). Then converted into 3-aroyl-6,8-dichloroflavanones (4a-d) by using different aromatic aldehyde in ethanol containing little piperidine. The condensation of (4a-d) and phenylhydrazinehydrochloride, piperidine in DMF gives 3-(2-hydroxy3,5-dichlorophenyl)-4-substitution-1-phenyl-D2pyrazolines (5a-d) and condensation of (4a-d) and hydroxylamine-hydrochloride gives 3-(2-hydroxy-3,5-dichlorophenyl)-4-aroyl-5-substituted isoxazolines (6a-d). The above compounds are screened for their activities and have been found to exhibit significant effects on inorganic ions in blood serum in albino rats.

Key words: flavanone, isoxazoline, pyrazoline.

Abstrak. Bhoyar AD, Vankhade GN, Rajput PR. 2011. Sintesis dan studi cholo-tersubtitusi 4-aroil pirazolina dan isoxazolina serta efeknya pada ion anorganik dalam serum darah tikus albino. Nusantara Bioscience 3: 118-123. Kondensasi 2-tersubtitusi 3,5-dikloroasetofenon (2a-b) yang diperoleh dari kondensasi 2-hidroksi 3,5-dikloro-asetofenon (1) dan benzoil klorida yang dilarutkan dalam NaOH, pada perlakuan berdasarkan transformasi Baker-Venkatraman dengan keberadaan KOH dengan piridin menghasilkan 1-(2-hidroksi-3,5-diklorofenil)-3-tersubstitusi-1,3-propanedion (3a-b). Kemudian diubah menjadi 3-aroil-6,8-dikloroflavanone (4a-d) dengan aldehida aromatik yang berbeda dalam etanol yang mengandung sedikit piperidina. Kondensasi (4a-d) dan fenilhidrazina-hidroklorida, piperidina dalam DMF menghasilkan 3-(2-hidroksi 3,5-diklorofenil)-4-substitusi-1-fenil-D2pirazolina (5a-d) dan kondensasi (4a-d) dan hidroksilamin-hidroklorida menghasilkan 3-(2-hidroksi-3,5-diklorofenil)-4-aroil-5-tersubstitusi isoxazoline (6a-d). Senyawa-senyawa di atas diuji untuk mengetahui aktivitasnya dan diketahui menunjukkan efek yang signifikan pada ion anorganik dalam serum darah pada tikus albino.

Kata kunci: flavanone, isoxazoline, pirazolina.

Download Full Text

Leave a comment

Blood bacterial wilt disease of banana: the distribution of pathogen in infected plant, symptoms, and potentiality of diseased tissues as source of infective inoculums

Hadiwiyono

Abstract. Hadiwiyono. 2011. Blood bacterial wilt disease of banana: the distribution of pathogen in infected plant, symptoms, and potentiality of diseased tissues as source of infective inoculums. Nusantara Bioscience 3: 112-117. Bacterial wilt caused by blood disease bacterium (BDB) is the most important disease of banana in Indonesia. The disease was difficult to control due to by poorly understood of ecology and epidemiology of the disease. This paper reports the distribution of pathogen infected plant, symptoms, and potentiality of diseased tissues as source of inoculums. For studying the distribution of BDB in diseased banana, a number of 14 points of plant organ tissue was sampled and the pathogen was detected by PCR using a couple of specific primer for BDB, 121F and 121R. In addition to the detection of BDB using PCR, both external and internal symptoms were observed. All the points of detection were also used as source of inoculums to search the potentiality of the tissues as source of infective inoculums. The results showed that BDB was distributed systemically in infected banana. The pathogen infection caused systemic symptom and all part of infected banana were potential as source of infective inoculums.

Key words: blood disease bacterium, banana, distribution, inoculums, PCR.

Abstrak. Hadiwiyino. 2011. Penyakit layu bakteri darah pada pisang: distribusi patogen pada tanaman yang terinfeksi, gejala, dan potensi jaringan yang sakit sebagai sumber inokulum infektif. Nusantara Bioscience 3: 112-117. Layu bakteri yang disebabkan oleh penyakit darah (BDB) adalah penyakit paling penting yang menyerang tanaman pisang di Indonesia. Penyakit ini sulit dikontrol karena ekologi dan epidemiologinya kurang dipahami. Penelitian ini melaporkan distribusi patogen pada tanaman yang terinfeksi, gejala, dan potensi jaringan yang sakit sebagai sumber inokulum. Untuk mempelajari distribusi BDB pada pisang yang sakit, sejumlah 14 titik jaringan dari berbagai organ tanaman dicuplik dan patogen dideteksi dengan PCR menggunakan sepasang primer spesifik untuk BDB, yaitu 121F dan 121R. Selain deteksi BDB menggunakan PCR, baik gejala eksternal maupun internal diamati. Semua titik deteksi juga digunakan sebagai sumber inokulum untuk mencari potensi jaringan sebagai sumber inokulum infektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BDB terdistribusi sistemik pada pisang yang terinfeksi. Infeksi patogen menyebabkan gejala sistemik dan semua bagian pisang yang terinfeksi berpotensi sebagai sumber inokulum infektif.

Kata kunci: penyakit darah bakteri, pisang, distribusi, inokulum, PCR.

Download Full Text

Leave a comment

Development of an efficient protocol for genomic DNA extraction from mango (Mangifera indica)

Dilruba Ashrafun Nahar Majumder, Lutful Hassan, Mohammad Abdur Rahim, Mohammad ahsanul Kabir

Abstract. Majumder DAN, Hassan L, Rahim MA, Kabir MA. 2011. Development of an efficient protocol for genomic DNA extraction from mango (Mangifera indica). Nusantara Bioscience 3: 105-111. A simple and efficient method for genomic DNA extraction from woody fruit crops containing high polysaccharide levels has been described here. In the present study, three kinds of plant DNA extraction protocols were studied and the target was to establish the water-saturated ether (WSE) with 1.25 M NaCl method as the most efficient protocol for removing the highly concentrated polysaccharides from genomic DNA of woody fruit crops. This method involves the modified CTAB or SDS procedure employing a purification step to remove polysaccharides using the WSE method. Precipitation with an equal volume of isopropanol caused a DNA pellet to form. After being washed with 70% ethyl alcohol, the pellet became easily dissolved in TE buffer. Using these three methods, DNA was extracted from samples of 60 mango genotypes, including young, mature, old, frosted old and withered old leaves. Compared with the three studied DNA extraction protocols of mango, it was found that the WSE method with NaCl had the highest value of average percentage (85.44%) in DNA content of the mango genotypes. The average yield of DNA ranged from 5.05 µg/µL to11.28 µg/µL. DNA was suitable for PCR and RAPD analyses and long-term storage for further use.

Key words: DNA extraction, fruit crops, polysaccharides, RAPD, water- saturated ether.

Abbreviations: CTAB: hexadecyltrimethylammonium bromide; RAPD: Random Amplified Polymorphic DNA; RFLP: Restriction Fragment Length Polymorphism; SSR: Simple Sequence Repeats; RT: Room temperature; WSE: Water: saturated ether.

Abstrak. Majumder DAN, Hassan L, Rahim MA, Kabir MA. 2011. Pengembangan protokol ekstraksi DNA genom mangga (Mangifera indica) yang efisien. Nusantara Bioscience 3: 105-111. Sebuah metode sederhana dan efisien untuk ekstraksi DNA genom tanaman buah berkayu yang mengandung banyak polisakarida telah dilakukan. Dalam penelitian ini, tiga protokol ekstraksi DNA tumbuhan dipelajari; dan tujuannya adalah menetapkan metoda ether jenuh air (WSE) dengan NaCl 1.25 M sebagai protokol yang paling efisien dalam mengeluarkan polisakarida yang sangat melimpah pada DNA genom tanaman buah berkayu. Penelitian ini mencakup CTAB yang dimodifikasi dan prosedur SDS sebagai langkah pemurnian untuk menghilangkan polisakarida, serta penggunaan metode WSE. Presipitasi dengan isopropanol yang sama volumenya menyebabkan pelet DNA terbentuk. Setelah dicuci dengan etil alkohol 70%, pelet menjadi mudah larut dalam buffer TE. Menggunakan tiga metode di atas, DNA diekstraksi dari sampel 60 genotipe mangga, termasuk daun muda, daun dewasa, daun tua, daun kering-beku dan daun kering. Perbandingan tiga protokol ekstraksi DNA mangga, menunjukkan bahwa metode WSE dengan NaCl menghasilkan nilai persentase rata-rata (85,44%) kandungan DNA genotipe mangga yang tertinggi. Hasil rata-rata DNA berkisar antara 5,05  µg/mL hingga 11,28  µg/mL. DNA cocok untuk analisis PCR dan RAPD dan memungkinkan penyimpanan jangka panjang untuk digunakan lebih lanjut.

Kata kunci: ekstraksi DNA, tanaman buah, polisakarida, RAPD, eter jenuh air.

Download Full Text

Leave a comment

The knowledge of Bengkulu University’s forestry students of tree diversity in their campus

Wiryono, Steffanie Nurliana

Abstract. Wiryono, Nurliana S. 2011. The knowledge of Bengkulu University’s forestry students of tree diversity in their campus. Nusantara Bioscience 3: 98-103. Indonesia is rich in plant diversity which has provided daily human needs for millennia. Knowledge of diverse plants and their uses is part of ecological knowledge essential for the survival of human. However, rapid deforestation has reduced plant diversity and caused the loss of traditional ecological knowledge. Furthermore, the increased availability of electronic entertainment has alienated young people from nature, causing further loss of ecological knowledge. The objective of this study was to know the ability of Bengkulu University’s forestry students to identify trees growing in the campus by local names and their genera. Knowing the name of trees growing in our environment is an indicator of concern for biodiversity. Results showed that forestry students had low ability to identify trees by local names and even lower by genera. Second-semester students could identify fewer trees than the higher-semester students, and the knowledge was not affected by student’s gender or profession of students’ parents. This low appreciation of plant diversity among young generation will have negative implication for biodiversity conservation efforts. Students should be brought closer to nature by increasing outdoor education.

Key words: concern for biodiversity, botanical knowledge, forestry students.

Abstrak. Wiryono, Nurliana S. 2011. Pengetahuan mahasiswa kehutanan Universitas Bengkulu terhadap keragaman pohon di kampusnya. Nusantara Bioscience 3: 98-103. Indonesia kaya akan keanekaragaman tumbuhan yang telah memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari selama ribuan tahun. Pengetahuan tentang tumbuhan yang beragam dan kegunaan mereka adalah bagian dari pengetahuan ekologi penting untuk kelangsungan hidup manusia. Namun, deforestasi yang cepat telah mengurangi keanekaragaman tumbuhan dan menyebabkan hilangnya pengetahuan ekologi tradisional. Selanjutnya, peningkatan ketersediaan hiburan elektronik telah mengasingkan kaum muda dari alam, menyebabkan hilangnya pengetahuan ekologi lebih banyak lagi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan mahasiswa kehutanan Universitas Bengkulu untuk mengidentifikasi pohon yang tumbuh di kampus dengan nama lokal dan genus. Mengetahui nama pohon yang tumbuh di lingkungan merupakan indikator kepedulian terhadap keanekaragaman hayati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa kehutanan memiliki kemampuan yang rendah untuk mengidentifikasi pohon dengan nama lokal dan bahkan lebih rendah lagi dengan nama genus. Mahasiswa semester kedua dapat mengidentifikasi pohon lebih sedikit dibanding mahasiswa dengan semester yang lebih tinggi, dan pengetahuan itu tidak terpengaruh oleh jenis kelamin atau profesi orang tua. Hal ini menunjukkan rendahnya apresiasi keanekaragaman tumbuhan di kalangan generasi muda yang akan memiliki implikasi negatif bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati. Mahasiswa harus dibawa lebih dekat dengan alam dengan meningkatkan pendidikan di luar ruangan.

Kata kunci: kepedulian terhadap keanekaragaman hayati, botani pengetahuan, mahasiswa kehutanan.

Download Full Text

Leave a comment

Six hitherto unreported Basidiomycetic macrofungi from Kashmir Himalayas

Shauket Ahmed Pala, Abdul Hamid Wani, Mohmad Yaqub Bhat

Abstract. Pala SA, Wani AH, Bhat MY. 2011. Six hitherto unreported Basidiomycetic macrofungi from Kashmir Himalayas. Nusantara Bioscience 3: 92-97. The Kashmir valley located in the north extreme of the India lies between 33020’ and 34054’ N latitude and 730 55’ and 75035’ E longitude. The forests constituting more than 20% of the geographical area harbors diverse macrofungal species due to their wide variability in climate altitude and nature of species constituting them. The mushroom flora of the Kashmir Valley has not been documented completely until now. In this backdrop, a systematic survey for exploration and inventorization of macrofungal species of Western Kashmir Himalaya was undertaken during the year 2009-2010. During the study six species viz. Agrocybe molesta, Coprinus plicatilis, Inonotus hispidus, Paxillus involutus, Psathyrella candolleana and Russula fragilis were identified first time from the Kashmir.

Key words: Kashmir Himalayas, wild macrofungi, edible, medicinal.

Abstrak. Pala SA, Wani AH, Bhat MY. 2011. Enam makrofungi Basidiomycetes yang sampai sekarang belum dilaporkan dari Kashmir Himalaya. Nusantara Bioscience 3: 92-97. Lembah Kashmir terletak di ujung utara India, antara 33o20′ dan 34o54′ LU, serta 73o55′ dan 75o35′ BT. Hutan di kawasan ini mencakup lebih dari 20% luas wilayah geografis, menjadi tempat tinggal beragam spesies makrofungi karena sangat beragamnya iklim di ketinggian dan sifat alamiah dari spesies-spesies penusunnya. Flora jamur di Lembah Kashmir belum pernah didokumentasikan secara lengkap sampai sekarang. Oleh karena itu, sebuah survei sistematika untuk mengeksplorasi dan menginventarisasi spesies macrofungi dari bagian barat Kashmir Himalaya dilakukan selama tahun 2009-2010. Selama penelitian, enam spesies yaitu: Agrocybe molesta, Coprinus plicatilis, Inonotus hispidus, Paxillus involutus, Psathyrella candolleana dan Russula fragilis diidentifikasi untuk pertama kalinya dari Kashmir.

Kata kunci: Kashmir Himalaya, macrofungi liar, dimakan, obat.

Download Full Text

Leave a comment

The Palestinian mammalian fauna acquired by the zoological gardens in the Gaza Strip

Abdel Fattah N. Abd Rabou

Abstract. Abd Rabou AFN. 2011. The Palestinian mammalian fauna acquired by the zoological gardens in the Gaza Strip. Nusantara Bioscience 3: 82-91. The Gaza Strip, which is an arid strip of the Palestinian land along the southeastern Mediterranean, harbors a considerable number of mammalian fauna due to its eco-geo-strategic position. Prior to 2006, the establishment of zoological gardens in the Gaza Strip was a sort of imagination due to Israeli constraints. These constraints were nurtured by the total Israeli destruction and demolition of the Rafah and Gaza private zoological gardens in 2004 and 2009 respectively, using heavy tanks and bulldozers. The establishment of many zoological gardens following the Israeli evacuation from the Gaza Strip in late 2005 encouraged wildlife trading. Hence, the current study comes to document the Palestinian mammalian faunistic species acquired by the zoological gardens in the Gaza Strip through frequent visits to Gaza zoological gardens and meetings with local people, wildlife hunters and zoo owners. A total number of 17 Palestinian mammalian faunistic species belonging to 12 families and 5 orders was encountered in the zoological gardens throughout the study period. The encountered species represent a good mix of the families and sizes of mammals generally found in other parts of Palestine. Order Carnivora represents 52.94% of the caged mammals, while the orders Rodentia, Lagomorpha, Artiodactyla and Insectivora represent 47.06%. The study documented the first sight of the Greater Egyptian Gerbil Gerbillus pyramidis in the Gaza Strip. Local hunting, tunnel trade and delivery were the lonely sources of the mammals encountered in the zoological gardens. The economic deprivation under the current Israeli blockade and the poor implementation of environmental laws and legislations concerning wildlife protection have made wildlife trading as a common practice. Finally, The author recommends to improving the management process of Gaza zoological gardens under the care of the governmental authorities and the cooperation of the different parties in the Gaza Strip to enhance public ecological awareness to protect and conserve wildlife; especially mammals.

Key words: mammals, carnivores, zoological gardens, wildlife hunting, tunnel trade, Gaza, Palestine.

Abstrak. Abd Rabou AFN. 2011. Fauna mamalia Palestina yang dipelihara kebun binatang-kebun binatang di Jalur Gaza. Nusantara Bioscience 3: 82-91. Jalur Gaza, yang merupakan jalur tanah kering bagian negara Palestina di sepanjang tepi Laut Tengah bagian tenggara, menjadi tempat tinggal sejumlah hewan mamalia karena posisi eko-geo-strategisnya. Sebelum tahun 2006, pendirian kebun binatang di Jalur Gaza hanyalah sebuah impian karena larangan Israel. Hal ini tampak dari penghancuran dan pembongkaran seluruh kebun binatang swasta di Rafah dan Gaza oleh Israel, secara berturut-turut pada tahun 2004 dan 2009, menggunakan tank dan buldoser. Pembentukan kebun binatang banyak dilakukan setelah penarikan mundur Israel dari Jalur Gaza pada akhir tahun 2005, didorong oleh maraknya perdagangan satwa liar. Penelitian ini dilakukan untuk mendokumentasikan jenis-jenis hewan mamalia Palestina yang dipelihara oleh kebun binatang di Jalur Gaza dengan cara sering berkunjung ke kebun binatang serta pertemuan dengan masyarakat setempat, pemburu satwa liar dan pemilik kebun binatang. Sebanyak 17 jenis hewan mamalia Palestina dari 12 suku dan 5 bangsa ditemukan di kebun binatang selama periode penelitian. Jenis-jenis yang ditemukan mewakili keragaman suku dan kekayaan mamalia yang juga umum ditemukan di bagian lain Palestina. Bangsa karnivora mewakili 52,94% dari mamalia yang dipelihara, sementara bangsa Rodentia, Lagomorpha, Artiodactyla dan Insectivora mewakili 47,06%. Studi ini mendokumentasikan untuk pertamakalinya keberadaan Gerbillus pyramidis di Jalur Gaza. Perburuan lokal, perdagangan melalui terowongan dan pengiriman merupakan sumber asal mamalia di kebun binatang. Kemunduran ekonomi akibat blokade Israel dan buruknya implementasi hukum lingkungan dan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan satwa liar telah menyebabkan perdagangan satwa liar menjadi praktik yang umum dilakukan. Penulis menyarankan adanya peningkatan manajemen kebun binatang-kebun binatang di Gaza dengan bimbingan otoritas pemerintah dan kerjasama dari para pihak untuk meningkatkan kesadaran ekologi masyarakat dalam melindungi dan melestarikan satwa liar, terutama mamalia.

Kata kunci: mamalia, karnivora, kebun binatang, perburuan satwa liar, perdagangan melalui terowongan, Gaza, Palestina.

Download Full Text

Leave a comment

Corals differential susceptibilities to bleaching along the Red Sea Coast, Egypt

Mohammed Shokry Ahmed Ammar, Ahmed Hamed Obuid-Allah, Montaser Aly Mahmoud Al-Hammady

Abstract. Ammar MSA, Obuid-Allah AH, Al-Hammady MAM. 2011. Corals differential susceptibilities to bleaching along the Red Sea Coast, Egypt. Nusantara Bioscience 3: 73-81. Coral bleaching was studied at four sites in four widely geographically separated areas. Three of these sites are subjected to different human activities and the fourth one is considered as a control site. Data were collected by using SCUBA diving equipments and the line transects method. A total of 3940 coral colonies, representing 62 species in 21genera and 10 families, were recorded on transects on the reefs of four studied sites.20.11% of all corals were affected by bleaching: 5.4% were moderately affected; 2.7% severely affected and 12.007% were dead. Overall, there were differences in the proportion of colonies affected by bleaching between the studied sites. Ras El-Behar, the site impacted by petroleum oil, has the maximum average proportion of moderately, severely bleached and dead colonies. While, the lowest average proportions of severely bleached colonies and dead colonies were found at Kalawy bay. Surprisingly, coral reef taxa at El-Hamraween harbor showed high resistance to bleaching probably because of having a new different clade of Symbiodinium which can withstand sea water temperature. Species with highest susceptibilities to bleaching in areas of oil pollution, increased sedimentation and heavy load of phosphate are Stylophora pistillata, Acropora granulosa and Montipora meandrina, respectively while species with lowest susceptibilities are Fungia fungites, Alveopora daedalea and Millepora dichotoma, respectively.

Key words: coral, bleaching, eutrophication, oil pollution, sedimentation, Red Sea.

Abstrak. Ammar MSA, Obuid-Allah AH, Al-Hammady MAM. 2011. Kerentanan diferensial karang terhadap pemutihan di sepanjang Pantai Laut Merah, Mesir. Nusantara Bioscience 3: 73-81. Pemutihan karang dipelajari di empat lokasi pada empat wilayah geografis yang terpisah secara luas. Tiga dari lokasi ini dipengaruhi aktivitas manusia yang berbeda dan lokasi yang keempat dianggap sebagai lokasi kontrol. Data dikumpulkan dengan menggunakan peralatan menyelam SCUBA dan metode garis transek. Sebanyak 3940 koloni karang, yang mewakili 62 spesies dari 21genera dan 10 famili, tercatat pada transek yang mewakili empat lokasi terumbu karang yang dipelajari. 20.11% dari semua karang mengalami pemutihan: 5,4% cukup terpengaruh; 2,7% terkena dampak parah, dan 12,007% mati. Secara keseluruhan, terdapat perbedaan proporsi koloni yang dipengaruhi oleh pemutihan antara masing-masing lokasi yang dipelajari. Ras El-Behar, lokasi yang dipengaruhi oleh minyak bumi, memiliki proporsi merata antara koloni yang cukup, parah dan mati. Sementara, proporsi rata-rata terendah dari koloni yang parah dan mati ditemukan di teluk Kalawy. Mengejutkannya, terumbu karang di pelabuhan El-Hamraween menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap pemutihan kemungkinan karena memiliki kelompok baru Symbiodinium yang berbeda dan dapat menahan suhu air laut. Spesies dengan kerentanan tertinggi untuk pemutihan di lokasi yang mengalami pencemaran minyak, peningkatan sedimentasi dan fosfat secara berturut-turut adalah Stylophora pistillata, Acropora granulosa dan Montipora meandrina, sementara spesies dengan kerentanan terendah secara berturut-turut adalah Fungia fungites, Alveopora daedalea dan Millepora dichotoma.

Key words: karang, pemutihan, eutrofikasi, polusi minyak, sedimentasi, Laut Merah.

Download Full Text

Leave a comment

Multiple shoot formation in Gloriosa superba: A rare and endangered Indian medicinal plant

Ravindra Ade, Mahendra Rai

Abstract. Ade R, Rai M. 2011. Multiple shoot formation in Gloriosa superba: A rare and endangered Indian medicinal plant. Nusantara Bioscience 3: 68-72. We report in vitro growth of callus and multiple shoots and standardized the culture conditions for Gloriosa superba. The main aim of the present study was to evaluate the effect of different growth media with different hormonal concentrations on callus induction and multiple shoot formation in Gloriosa superba. The results indicated that MS medium supplemented with 2,4-D 4.52 mM and BAP 13.30 mM promoted the formation of the maximum number of shoots compared to IAA, IBA and with Gamborg B5 medium supplemented with kinetin, IBA and BAP were found to be superior.

Key words: callus induction, Gloriosa superba, multiple shoots, kinetin.

Abstrak. Ade R, Rai M. 2011. Pembentukan pucuk ganda pada Gloriosa superba: Sebuah tanaman obat dari India yang langka dan hampir punah. Nusantara Bioscience 3: 68-72. Kami melaporkan pertumbuhan in vitro kalus dan pucuk ganda, serta standarisasi kondisi budibudaya untuk Gloriosa superba.  Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh mediapertumbuhan yang berbeda dengan konsentrasi hormon yang berbeda terhadap induksi kalus dan pembentukan pucuk ganda pada Gloriosa superba. Hasilnya menunjukkan bahwa medium MS yang ditambah dengan 2,4-D 4,52 mM dan BAP 13,30 mM lebih unggul untuk meningkatkan pembentukan jumlah pucuk terbanyak dibandingkan dengan IAA, IBA dan media Gamborg B5 yang ditambah dengan kinetin, IBA dan BAP.

Kata kunci: induksi kalus, Gloriosa superba, pucuk ganda,kinetin.

Download Full Text

Leave a comment

Oral squamous cell carcinoma patients which human papilloma virus infection: a case control study in Muwardi Hospital Surakarta, Central Java, Indonesia

Adi Prayitno, Elyana Aznar, Poernomo, Suhartono Taat Putra

Abstract. Prayitno A, Aznar E, Poernomo, Putra ST. 2011. Oral squamous cell carcinoma patients which human papilloma virus infection: a case control study in Muwardi Hospital Surakarta, Central Java, Indonesia. Nusantara Bioscience 3: 64-67. Annual incidence rates for oral and pharyngeal cancer are estimated at 25 cases per 100,000 in developing countries. Human papilloma virus (HPV) was implicated in pathogenesis of Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC). Aims of this research were to know the incidence of OSSC patient which realized HPV infection. Women OSCC (15) and Benign Oral Squamous Cells (BOSC) (40) tissue biopsy frozen sections were from Departement of Oral and Dental, Muwardi Hospital in Surakarta from January to December 2007. Tissue was cut into two parts. To ascertain the type of neoplasm was subsequently stains with HE. To amplify the L1-HPV gene for 450bp long. The collected data was analyzed by Chi Square Test. The result of this experiment showed nine patients from 40 patients BOSC identified have HPV infections (9/40 = 23%). Eleven patient from 15 patient OSCC identified have HPV infections (11/15 = 73%). From Chi Square analysis have significant differences between BOSC and OSCC. HPV is a factor for OSCC pathogenesis.

Key words: developing countries, HPV, pathogenesis, OSCC, Moewardi Hospital.

Abstrak. Prayitno A, Aznar E, Poernomo, Putra ST. 2011. Pasien oral squamous cell carcinoma dengan infeksi virus papiloma manusia: studi kasus kontrol di Rumah Sakit Muwardi Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Nusantara Bioscience 3: 64-67. Tingkat insiden tahunan untuk kanker mulut dan faring diperkirakan mencapai 25 kasus per 100.000 di negara-negara berkembang. Human papilloma virus (HPV) terlibat dalam patogenesis Oral Squamous Cell Carcinoma (OSCC). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian pasien OSSC yang mengalami infeksi HPV. Irisan beku biopsi jaringan OSCC (15) dan Benign Oral Squamous Cells (BOSC) (40) wanita diperoleh dari Bahian Mulut dan Gigi Rumah Sakit Muwardi Surakarta, dari bulan Januari sampai Desember 2007. Jaringan dipotong menjadi dua bagian. Untuk memastikan jenis neoplasma, maka diwarnai dengan HE. Untuk gen L1-HPV digunakan penanda berukuran 450bp. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan Chi Square Test. Hasil penelitian ini menunjukkan sembilan pasien dari 40 pasien BOSC diidentifikasi mengalami infeksi HPV (9/40 = 23%). Sebelas pasien dari 15 pasien OSCC diidentifikasi mengalami infeksi HPV (11/15 = 73%). Dari analisis Chi Square terdapat perbedaan yang signifikan antara BOSC dan OSCC. HPV merupakan faktor patogenesis OSCC.

Kata kunci: negara berkembang, HPV, patogenesis, OSCC, Rumah sakit Muwardi.

Download Full Text

Leave a comment

A biogenic approach for green synthesis of silver nanoparticles using extract of Foeniculum vulgare and its activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli

SHINTAL BONDE

Abstract. Bonde S. 2011. A biogenic approach for green synthesis of silver nanoparticles using extract of Foeniculum vulgare and its activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Nusantara Bioscience 3: 59-63. We report green synthesis of silver nanoparticles from extract of Foeniculum vulgare (fennel, saunf). The synthesis of silver nanoparticles was detected by changing color from green to brown after treatment with AgNO3 (1mM) and the UV-visible spectrophotometer analysis showed the absorbance peak at about 427 nm, which indicates the synthesis of silver nanoparticles. Nanoparticle Tracking and Analysis (NTA) by LM-20 was used for multi-parameter analysis, allowing for characterization of particle size and particle distribution of silver nanoparticles synthesized from extract of F. vulgare. NTA revealed the polydispersed nanoparticles in the range of 18-83 nm. Phytosynthesized silver nanoparticles showed antibacterial activity against the Staphylococcus aureus (ATCC-25923) and Escherichia coli (ATCC-39403). The silver nanoparticles also demonstrated remarkable antibacterial activity against two human pathogenic bacteria when used in combination with commercially available antibiotics. The bactericidal activity of the standard antibiotics was significantly enhanced in presence of silver nanoparticles against pathogenic bacteria, viz. E. coli-JM-103 (ATCC-39403) and S. aureus (ATCC-25923). Silver nanoparticles in combination with vancomycin showed maximum activity against E. coli (increase in fold area 5.76. and followed by S. aureus (1.08) and Gentamicin showed the maximum activity S. aureus (2.6) while E. coli (0.96). The approach of phytosynthesized silver nanoparticles using F. vulgare appears to be cost efficient, eco-friendly and easy alternative to conventional methods of synthesis.

Key words: Foeniculum vulgare, silver nanoparticles, LM20, antibacterial.

Abstrak. Bonde S. 2011. Pendekatan biogenik untuk sintesis nanopartikel perak menggunakan ekstrak Foeniculum vulgare dan aktivitasnya terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Nusantara Bioscience 3: 59-63. Kami melaporkan sintesis nanopartikel perak dari ekstrak Foeniculum vulgare (adas). Sintesis nanopartikel perak terdeteksi dengan mengubah warna dari hijau sampai coklat setelah perlakuan dengan AgNO 3 (1mm); dan analisis spektrofotometer UV-vis menunjukkan puncak absorbansi pada sekitar 427 nm, yang menunjukkan sintesis nanopartikel perak. Analisis Pelacakan Nanopartikel (NTA) oleh LM-20 digunakan untuk analisis multi-parameter, memungkinkan untuk karakterisasi ukuran partikel dan distribusi partikel nanopartikel perak yang disintesis dari ekstrak F. vulgare. NTA mengungkapkan nanopartikel tersebar di kisaran 18-83 nm. Fitosintesis nanopartikel perak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (ATCC-25923) dan Escherichia coli (ATCC-39403). Perak nanopartikel juga menunjukkan aktivitas antibakteri yang luar biasa terhadap dua bakteri patogen manusia apabila digunakan dalam kombinasi dengan antibiotik yang tersedia secara komersial. Aktivitas bakterisida antibiotik standar secara signifikan ditingkatkan dengan adanya nanopartikel perak terhadap bakteri patogen, yaitu: E. coli-JM-103 (ATCC-39403) and S. aureus (ATCC-25923). Nanopartikel perak yang dikombinasi dengan vankomisin menunjukkan aktivitas maksimal terhadap E. coli (kenaikan berlipat 5,76) dan diikuti oleh S. aureus (1,08); dan gentamisin menunjukkan aktivitas maksimum S. aureus (2,6) sedangkan E. coli (0,96). Pendekatan fitosintesis nanopartikel perak menggunakan F. vulgare tampaknya memerlukan biaya yang efisien, ramah lingkungan dan merupakan alternatif mudah untuk metode sintesis konvensional.

Kata kunci: Foeniculum vulgare, nanopartikel perak, LM20, antibakteri.

Download Full Text

Leave a comment