Biological screening of selected traditional medicinal plants species utilized by local people of Manokwari, West Papua Province

Obed Lense

Abstract. Lense O. 2011. Biological screening of selected traditional medicinal plants species utilized by local people of Manokwari, West Papua Province. Nusantara Bioscience 3: 145-150. The aim of the research was to determine the presence of alkaloids and anti-microbial activity in extracts from selected medicinal plants from Manokwari District, West Papua, Indonesia. The method of alkaloid testing followed the standard phytochemical methods. The procedure of the Calibrated Dichotomous Sensitivity (CDS) test was used for the antimicrobial bioassays. Results of biological screening suggested that all but one of the 56 species tested contained different levels of alkaloids. Eleven species showed anti-microbial activity using bioassays of responses to two bacteria, Salmonella typhi and Klebsiella pneumoniae, and two fungi Candida albicans, and Cryptococcus neoformans; none of the plant extracts showed an antimicrobial effect against the bacteria Escherichia coli. Extract of Planconella sp. was the most active one as it showed activity against three different organisms (C. albicans, C. neoformans, and S. typhi).

Key words: biological screening, local people, Manokwari, traditional medicinal plant, West Papua.

Abstrak. Lense O. 2011. Penapisan hayati beberapa jenis tumbuhan obat tradisional terpilih yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal Manokwari, Provinsi Papua Barat. Nusantara Bioscience 3: 145-150. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya alkaloid dan aktivitas anti-mikroba ekstrak beberapa tanaman obat terpilih dari Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Indonesia. Metode pengujian alkaloid mengikuti metode fitokimia standar. Prosedur uji Calibrated Dichotomous Sensitivity (CDS) digunakan untuk uji hayati anti-mikroba. Hasil penapisan hayati menunjukkan bahwa ke-56 jenis yang diuji mengandung alkaloid dengan kadar yang berbeda-beda, kecuali satu jenis. Sebelas jenis menunjukkan aktivitas anti-mikroba berdasarkan respons uji hayati terhadap dua bakteri, Salmonella typhi dan Klebsiella pneumoniae, dan dua jamur Candida albicans dan Cryptococcus neoformans, tidak satupun dari ekstrak tanaman yang menunjukkan efek anti-mikroba terhadap bakteri Escherichia coli. Ekstrak Planconella sp. adalah yang paling aktif karena menunjukkan aktivitas terhadap tiga organisme yang berbeda (C. albicans, C. neoformans, dan S. typhi).

Kata kunci: penapisan biologi, masyarakat lokal, Manokwari, tumbuhan obat tradisional, Papua Barat.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Litter decomposing fungi in sal (Shorea robusta) forests of central India

KRISHNA KANT SONI, ABHISHEK PYASI, RAM KEERTI VERMA

Abstract. Soni KK, Pyasi A, Verma RK. 2011. Litter decomposing fungi in sal (Shorea robusta) forests of central India. Nusantara Bioscience 3: 136-144. The present study aim on isolation and identification of fungi associated with decomposition of litter of sal forest in central India. Season wise successional changes in litter mycoflora were determined for four main seasons of the year namely, March-May, June-August, September-November and December-February. Fungi like Aspergillus flavus, A. niger and Rhizopus stolonifer were associated with litter decomposition throughout the year, while Aspergillus fumigatus, Cladosporium cladosporioides, C. oxysporum, Curvularia indica, and C. lunata were recorded in three seasons. Some fungi including ectomycorrhiza forming occur only in the rainy season (June-August) these are Astraeus hygrometricus, Boletus fallax, Calvatia elata, Colletotrichum dematium, Corticium rolfsii, Mycena roseus, Periconia minutissima, Russula emetica, Scleroderma bovista, S. geaster, S. verrucosum, Scopulariopsis alba and four sterile fungi. Fungi like Alternaria citri, Gleocladium virens, Helicosporium phragmitis and Pithomyces cortarum were rarely recorded only in one season.

Key words: decomposition, fungi, forests, litter, sal, seasonal variation.

Abstrak. Soni KK, Pyasi A, RK Verma. 2011. Fungi pembusuk serasah pada hutan-hutan meranti merah muda (Shorea robusta) di India tengah. Nusantara Bioscience 3: 136-144. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi fungi yang terlibat dalam dekomposisi serasah dari hutan meranti merah muda di India tengah. Sejalan dengan perubahan suksesional fungi pendegradasi serasah, maka penelitian dilakukan pada empat musim utama dalam setahun, yaitu Maret-Mei, Juni-Agustus, September-November, dan Desember-Februari. Fungi seperti Aspergillus flavus, A. niger dan Rhizopus stolonifer terlibat dalam dekomposisi serasah sepanjang tahun, sementara Aspergillus fumigatus, Cladosporium cladosporioides, C. oxysporum, Curvularia indica, dan C. lunata terlibat dalam tiga musim. Beberapa fungi termasuk fungi pembentuk ectomycorrhiza hanya ditemukan pada musim hujan (Juni-Agustus) yaitu Astraeus hygrometricus, Boletus fallax, Calvatia elata, Colletotrichum dematium, Corticium rolfsii, Mycena roseus, Periconia minutissima, Russula emetica, Scleroderma bovista, S. geaster, S. verrucosum, Scopulariopsis alba dan empat fungi steril. Fungi seperti Alternaria citri, Gleocladium virens, Helicosporium phragmitis dan Pithomyces cortarum jarang ditemukan dan hanya ditemukan dalam satu musim.

Kata kunci: dekomposisi, serasah, fungi, hutan-hutan meranti merah muda, variasi musiman.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Variation in oil contents, and seed and seedling characteristics of Jatropha curcas of West Nusa Tenggara selected genotypes and their first improved population

Bambang Budi Santoso

Abstract. Santoso BS. 2011. Variation in oil contents, and seed and seedling characteristics of Jatropha curcas of West Nusa Tenggara selected genotypes and their first improved population. Nusantara Bioscience 3: 130-135. This study describes variation in seed and seedling characters of Jatropha curcas Linn. of West Nusa Tenggara selected genotypes. Exploration was conducted in several areas where large population of this species grown as fences was found. Five selected genotypes were then grown in experimental fields to let mass selection to obtain the first improved population for each genotype. Seeds of wild population (P0) and those of selected trees as the first improved population (IP-1) were subjected to this study. Seed and seedling characteristics were measured. The result indicated that considerable genetic variability existed among the five J. curcas of West Nusa Tenggara selected genotypes and within each genotype population for seed and seedling characteristics. Genotypes of West Lombok, Sumbawa, and Bima performed exceedingly better than those of Central Lombok and East Lombok. Therefore, this study has suggestions for identifying potential seed sources of J. curcas and these existing genetic variability provides breeders with materials in crop improvement program.

Keywords: genetic variability, seeds, seedling, selection.

Abstrak. Santoso BS. 2011. Keragaman kandungan minyak, serta karakteristik biji dan bibit genotipe terpilih Jatropha curcas Nusa Tenggara Barat dan populasi pertamanya yang diperkaya. Nusantara Bioscience 3: 130-135. Kajian ini menjelaskan keragaman karakteristik benih dan bibit Jatropha curcas Linn. Nusa Tenggara Barat dari genotipe terpilih. Eksplorasi dilakukan di beberapa daerah dimana populasi-populasi besar jenis ini ditemukan sebagai tanaman pagar. Lima genotipe yang terpilih kemudian ditanam di lahan percobaan untuk memulai seleksi massal untuk mendapatkan populasi yang diperkaya pertama pada setiap kenotipe. Benih dari populasi liar (P0) dan pohon-pohon yang dipilih sebagai populasi yang diperkaya pertama (IP-1) menjadi subyek penelitian ini. Karakteristik benih dan bibit diukur. Hasilnya menunjukkan adanya variabilitas genetik yang cukup tinggi di antara lima genotipe terpilih J. curcas Nusa Tenggara Barat dan karakteristik benih dan bibit dari setiap populasi genotipe. Genotipe dari Lombok Barat, Sumbawa, dan Bima memiliki penampilan yang jauh lebih baik dari pada genotipe dari Lombok Tengah dan Lombok Timur. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam mengidentifikasi potensi sumber benih J. curcas dan menunjukkan adanya variabilitas genetik yang diperlukan penangkar sebagai bahan untuk program pemuliaan tanaman.

Kata kunci: variabilitas genetik, benih, pembibitan, seleksi.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Selection of parent trees for Rubber (Hevea brasiliensis) breeding based on RAPD analysis

Fetrina Oktavia, Mudji Lasminingsih, Kuswanhadi

Abstract. Oktavia F, Lasminingsih M, Kuswanhadi. 2011. Selection of parent trees for Rubber (Hevea brasiliensis) breeding based on RAPD analysis. Nusantara Bioscience 3: 124-129. The parent trees’ clones usually originate from the previous generation having the potential of high production with better agronomical characters. Although, phenotype characters can determine the genetic variability among accessions, they are highly sensitive to environmental factors, so it is often difficult to identify the difference between closely related clones. The genetic variability or phylogenetic relationships among rubber clones can be analysis using RAPD method, and based on the result, the parent trees can be selected. This research was aimed to analyze the genetic distance among rubber clones using RAPD method. Analysis was conducted on 45 rubber clones with 12 random primers. Pair-wise comparisons of unique and shared polymorphic amplification products were used to generate similarity coefficients. These coefficients were employed to construct a dendogram by using an Unweighted Pair-Group Method with Arithmetical Averages (UPGMA). The amplification of genomic DNA from 45 clones yielded 2408 DNA fragments, ranging in size from 250 bp to 3000 bp. The range of genetic similarity matrix was very wide (59.18%-94.23%). It indicated that most of the clones have a low level of polymorphism. The lowest genetic similarity (59,18%) was found between RRIC 110 and AVROS 352 clones, while the highest (94.23%) was between IRR 41 and IRR 42 clones. Cluster analysis showed that 45 clones of rubber were divided into two groups, the biggest group consisted of 30 clones, while the other one consisted of 15 clones with a genetic similarity value of 0,73.

Key words: rubber, RAPD, hand pollination, hevea breeding, parents trees.

Abstrak. Oktavia F, Lasminingsih M, Kuswanhadi. 2011. Pemilihan pohon induk untuk pemuliaan karet (Hevea brasiliensis) berdasarkan analisis RAPD. Nusantara Bioscience 3: 124-129. Klon-klon yang digunakan sebagai pohon induk biasanya berasal dari generasi sebelumnya yang memiliki potensi produksi tinggi dengan karakter agronomi yang lebih baik. Karakter fenotipe dapat menentukan variabilitas genetik di antara aksesi, namun sangat sensitif terhadap faktor-faktor lingkungan, sehingga sering kali sulit untuk mengidentifikasi perbedaan antar klon. Variabilitas genetik atau hubungan kekerabatan antar klon karet dapat analisis dengan menggunakan metode RAPD, dan berdasarkan hasil analisis tersebut klon-klon tetua dapat dipilih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jarak genetik antar klon karet dengan menggunakan metode RAPD. Analisis dilakukan pada 45 klon karet dengan 12 primer acak. Perbandingan pita polimorfik hasil amplifikasi digunakan untuk menghasilkan koefisien kesamaan. Koefisien ini berguna untuk menyusun dendogram dengan menggunakan Unweighted Pair-Group Method with Arithmetical Averages (UPGMA). Amplifikasi DNA genom dari 45 klon menghasilkan 2408 fragmen DNA yang berukuran 250-3000 bp. Kisaran matriks kesamaan genetik cukup luas (59,18%-94,23%). Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar klon memiliki tingkat polimorfisme yang rendah. Kesamaan genetik terendah (59,18%) ditemukan antara klon RRIC 110 dan AVROS 352, sedangkan yang tertinggi (94,23%) antara klon IRR 41 dan IRR 42. Analisis pengelompokkan menunjukkan bahwa 45 klon karet terbagi menjadi dua kelompok, kelompok terbesar terdiri dari 30 klon, sedangkan yang lain terdiri dari 15 klon dengan nilai kesamaan genetik 0,73.

Kata kunci: karet, RAPD, persilangan buatan, pemuliaan karet, pohon induk.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Synthesis and study of cholosubstituted 4-aroyl pyrazolines and isoxazolines and their effects on inorganic ions in blood serum in albino rats

AMOL D. BHOYAR, GANESH N. VANKHADE, PRITHVISIGH R. RAJPUT

Abstract. Bhoyar AD, Vankhade GN, Rajput PR. 2011. Synthesis and study of cholosubstituted 4-aroyl pyrazolines and isoxazolines and their effects on inorganic ions in blood serum in albino rats. Nusantara Bioscience 3: 118-123. Condensation of 2-substitutied 3,5-dichloroacetophenones (2a-b) obtained from the condensation of 2-hydroxy 3,5-dichloro-acetophenone (1) and benzoyl chloride were dissolved in NaOH, on treatment under Baker-Venkatraman transformation in presence of KOH with pyridine gives 1-(2-hydroxy-3,5-dichlorophenyl)-3-substituted-1,3-propanediones (3a-b). Then converted into 3-aroyl-6,8-dichloroflavanones (4a-d) by using different aromatic aldehyde in ethanol containing little piperidine. The condensation of (4a-d) and phenylhydrazinehydrochloride, piperidine in DMF gives 3-(2-hydroxy3,5-dichlorophenyl)-4-substitution-1-phenyl-D2pyrazolines (5a-d) and condensation of (4a-d) and hydroxylamine-hydrochloride gives 3-(2-hydroxy-3,5-dichlorophenyl)-4-aroyl-5-substituted isoxazolines (6a-d). The above compounds are screened for their activities and have been found to exhibit significant effects on inorganic ions in blood serum in albino rats.

Key words: flavanone, isoxazoline, pyrazoline.

Abstrak. Bhoyar AD, Vankhade GN, Rajput PR. 2011. Sintesis dan studi cholo-tersubtitusi 4-aroil pirazolina dan isoxazolina serta efeknya pada ion anorganik dalam serum darah tikus albino. Nusantara Bioscience 3: 118-123. Kondensasi 2-tersubtitusi 3,5-dikloroasetofenon (2a-b) yang diperoleh dari kondensasi 2-hidroksi 3,5-dikloro-asetofenon (1) dan benzoil klorida yang dilarutkan dalam NaOH, pada perlakuan berdasarkan transformasi Baker-Venkatraman dengan keberadaan KOH dengan piridin menghasilkan 1-(2-hidroksi-3,5-diklorofenil)-3-tersubstitusi-1,3-propanedion (3a-b). Kemudian diubah menjadi 3-aroil-6,8-dikloroflavanone (4a-d) dengan aldehida aromatik yang berbeda dalam etanol yang mengandung sedikit piperidina. Kondensasi (4a-d) dan fenilhidrazina-hidroklorida, piperidina dalam DMF menghasilkan 3-(2-hidroksi 3,5-diklorofenil)-4-substitusi-1-fenil-D2pirazolina (5a-d) dan kondensasi (4a-d) dan hidroksilamin-hidroklorida menghasilkan 3-(2-hidroksi-3,5-diklorofenil)-4-aroil-5-tersubstitusi isoxazoline (6a-d). Senyawa-senyawa di atas diuji untuk mengetahui aktivitasnya dan diketahui menunjukkan efek yang signifikan pada ion anorganik dalam serum darah pada tikus albino.

Kata kunci: flavanone, isoxazoline, pirazolina.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Blood bacterial wilt disease of banana: the distribution of pathogen in infected plant, symptoms, and potentiality of diseased tissues as source of infective inoculums

Hadiwiyono

Abstract. Hadiwiyono. 2011. Blood bacterial wilt disease of banana: the distribution of pathogen in infected plant, symptoms, and potentiality of diseased tissues as source of infective inoculums. Nusantara Bioscience 3: 112-117. Bacterial wilt caused by blood disease bacterium (BDB) is the most important disease of banana in Indonesia. The disease was difficult to control due to by poorly understood of ecology and epidemiology of the disease. This paper reports the distribution of pathogen infected plant, symptoms, and potentiality of diseased tissues as source of inoculums. For studying the distribution of BDB in diseased banana, a number of 14 points of plant organ tissue was sampled and the pathogen was detected by PCR using a couple of specific primer for BDB, 121F and 121R. In addition to the detection of BDB using PCR, both external and internal symptoms were observed. All the points of detection were also used as source of inoculums to search the potentiality of the tissues as source of infective inoculums. The results showed that BDB was distributed systemically in infected banana. The pathogen infection caused systemic symptom and all part of infected banana were potential as source of infective inoculums.

Key words: blood disease bacterium, banana, distribution, inoculums, PCR.

Abstrak. Hadiwiyino. 2011. Penyakit layu bakteri darah pada pisang: distribusi patogen pada tanaman yang terinfeksi, gejala, dan potensi jaringan yang sakit sebagai sumber inokulum infektif. Nusantara Bioscience 3: 112-117. Layu bakteri yang disebabkan oleh penyakit darah (BDB) adalah penyakit paling penting yang menyerang tanaman pisang di Indonesia. Penyakit ini sulit dikontrol karena ekologi dan epidemiologinya kurang dipahami. Penelitian ini melaporkan distribusi patogen pada tanaman yang terinfeksi, gejala, dan potensi jaringan yang sakit sebagai sumber inokulum. Untuk mempelajari distribusi BDB pada pisang yang sakit, sejumlah 14 titik jaringan dari berbagai organ tanaman dicuplik dan patogen dideteksi dengan PCR menggunakan sepasang primer spesifik untuk BDB, yaitu 121F dan 121R. Selain deteksi BDB menggunakan PCR, baik gejala eksternal maupun internal diamati. Semua titik deteksi juga digunakan sebagai sumber inokulum untuk mencari potensi jaringan sebagai sumber inokulum infektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BDB terdistribusi sistemik pada pisang yang terinfeksi. Infeksi patogen menyebabkan gejala sistemik dan semua bagian pisang yang terinfeksi berpotensi sebagai sumber inokulum infektif.

Kata kunci: penyakit darah bakteri, pisang, distribusi, inokulum, PCR.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Development of an efficient protocol for genomic DNA extraction from mango (Mangifera indica)

Dilruba Ashrafun Nahar Majumder, Lutful Hassan, Mohammad Abdur Rahim, Mohammad ahsanul Kabir

Abstract. Majumder DAN, Hassan L, Rahim MA, Kabir MA. 2011. Development of an efficient protocol for genomic DNA extraction from mango (Mangifera indica). Nusantara Bioscience 3: 105-111. A simple and efficient method for genomic DNA extraction from woody fruit crops containing high polysaccharide levels has been described here. In the present study, three kinds of plant DNA extraction protocols were studied and the target was to establish the water-saturated ether (WSE) with 1.25 M NaCl method as the most efficient protocol for removing the highly concentrated polysaccharides from genomic DNA of woody fruit crops. This method involves the modified CTAB or SDS procedure employing a purification step to remove polysaccharides using the WSE method. Precipitation with an equal volume of isopropanol caused a DNA pellet to form. After being washed with 70% ethyl alcohol, the pellet became easily dissolved in TE buffer. Using these three methods, DNA was extracted from samples of 60 mango genotypes, including young, mature, old, frosted old and withered old leaves. Compared with the three studied DNA extraction protocols of mango, it was found that the WSE method with NaCl had the highest value of average percentage (85.44%) in DNA content of the mango genotypes. The average yield of DNA ranged from 5.05 µg/µL to11.28 µg/µL. DNA was suitable for PCR and RAPD analyses and long-term storage for further use.

Key words: DNA extraction, fruit crops, polysaccharides, RAPD, water- saturated ether.

Abbreviations: CTAB: hexadecyltrimethylammonium bromide; RAPD: Random Amplified Polymorphic DNA; RFLP: Restriction Fragment Length Polymorphism; SSR: Simple Sequence Repeats; RT: Room temperature; WSE: Water: saturated ether.

Abstrak. Majumder DAN, Hassan L, Rahim MA, Kabir MA. 2011. Pengembangan protokol ekstraksi DNA genom mangga (Mangifera indica) yang efisien. Nusantara Bioscience 3: 105-111. Sebuah metode sederhana dan efisien untuk ekstraksi DNA genom tanaman buah berkayu yang mengandung banyak polisakarida telah dilakukan. Dalam penelitian ini, tiga protokol ekstraksi DNA tumbuhan dipelajari; dan tujuannya adalah menetapkan metoda ether jenuh air (WSE) dengan NaCl 1.25 M sebagai protokol yang paling efisien dalam mengeluarkan polisakarida yang sangat melimpah pada DNA genom tanaman buah berkayu. Penelitian ini mencakup CTAB yang dimodifikasi dan prosedur SDS sebagai langkah pemurnian untuk menghilangkan polisakarida, serta penggunaan metode WSE. Presipitasi dengan isopropanol yang sama volumenya menyebabkan pelet DNA terbentuk. Setelah dicuci dengan etil alkohol 70%, pelet menjadi mudah larut dalam buffer TE. Menggunakan tiga metode di atas, DNA diekstraksi dari sampel 60 genotipe mangga, termasuk daun muda, daun dewasa, daun tua, daun kering-beku dan daun kering. Perbandingan tiga protokol ekstraksi DNA mangga, menunjukkan bahwa metode WSE dengan NaCl menghasilkan nilai persentase rata-rata (85,44%) kandungan DNA genotipe mangga yang tertinggi. Hasil rata-rata DNA berkisar antara 5,05  µg/mL hingga 11,28  µg/mL. DNA cocok untuk analisis PCR dan RAPD dan memungkinkan penyimpanan jangka panjang untuk digunakan lebih lanjut.

Kata kunci: ekstraksi DNA, tanaman buah, polisakarida, RAPD, eter jenuh air.

Download Full Text

Posted in Jurnal | 1 Comment

The knowledge of Bengkulu University’s forestry students of tree diversity in their campus

Wiryono, Steffanie Nurliana

Abstract. Wiryono, Nurliana S. 2011. The knowledge of Bengkulu University’s forestry students of tree diversity in their campus. Nusantara Bioscience 3: 98-103. Indonesia is rich in plant diversity which has provided daily human needs for millennia. Knowledge of diverse plants and their uses is part of ecological knowledge essential for the survival of human. However, rapid deforestation has reduced plant diversity and caused the loss of traditional ecological knowledge. Furthermore, the increased availability of electronic entertainment has alienated young people from nature, causing further loss of ecological knowledge. The objective of this study was to know the ability of Bengkulu University’s forestry students to identify trees growing in the campus by local names and their genera. Knowing the name of trees growing in our environment is an indicator of concern for biodiversity. Results showed that forestry students had low ability to identify trees by local names and even lower by genera. Second-semester students could identify fewer trees than the higher-semester students, and the knowledge was not affected by student’s gender or profession of students’ parents. This low appreciation of plant diversity among young generation will have negative implication for biodiversity conservation efforts. Students should be brought closer to nature by increasing outdoor education.

Key words: concern for biodiversity, botanical knowledge, forestry students.

Abstrak. Wiryono, Nurliana S. 2011. Pengetahuan mahasiswa kehutanan Universitas Bengkulu terhadap keragaman pohon di kampusnya. Nusantara Bioscience 3: 98-103. Indonesia kaya akan keanekaragaman tumbuhan yang telah memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari selama ribuan tahun. Pengetahuan tentang tumbuhan yang beragam dan kegunaan mereka adalah bagian dari pengetahuan ekologi penting untuk kelangsungan hidup manusia. Namun, deforestasi yang cepat telah mengurangi keanekaragaman tumbuhan dan menyebabkan hilangnya pengetahuan ekologi tradisional. Selanjutnya, peningkatan ketersediaan hiburan elektronik telah mengasingkan kaum muda dari alam, menyebabkan hilangnya pengetahuan ekologi lebih banyak lagi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan mahasiswa kehutanan Universitas Bengkulu untuk mengidentifikasi pohon yang tumbuh di kampus dengan nama lokal dan genus. Mengetahui nama pohon yang tumbuh di lingkungan merupakan indikator kepedulian terhadap keanekaragaman hayati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa kehutanan memiliki kemampuan yang rendah untuk mengidentifikasi pohon dengan nama lokal dan bahkan lebih rendah lagi dengan nama genus. Mahasiswa semester kedua dapat mengidentifikasi pohon lebih sedikit dibanding mahasiswa dengan semester yang lebih tinggi, dan pengetahuan itu tidak terpengaruh oleh jenis kelamin atau profesi orang tua. Hal ini menunjukkan rendahnya apresiasi keanekaragaman tumbuhan di kalangan generasi muda yang akan memiliki implikasi negatif bagi upaya konservasi keanekaragaman hayati. Mahasiswa harus dibawa lebih dekat dengan alam dengan meningkatkan pendidikan di luar ruangan.

Kata kunci: kepedulian terhadap keanekaragaman hayati, botani pengetahuan, mahasiswa kehutanan.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Six hitherto unreported Basidiomycetic macrofungi from Kashmir Himalayas

Shauket Ahmed Pala, Abdul Hamid Wani, Mohmad Yaqub Bhat

Abstract. Pala SA, Wani AH, Bhat MY. 2011. Six hitherto unreported Basidiomycetic macrofungi from Kashmir Himalayas. Nusantara Bioscience 3: 92-97. The Kashmir valley located in the north extreme of the India lies between 33020’ and 34054’ N latitude and 730 55’ and 75035’ E longitude. The forests constituting more than 20% of the geographical area harbors diverse macrofungal species due to their wide variability in climate altitude and nature of species constituting them. The mushroom flora of the Kashmir Valley has not been documented completely until now. In this backdrop, a systematic survey for exploration and inventorization of macrofungal species of Western Kashmir Himalaya was undertaken during the year 2009-2010. During the study six species viz. Agrocybe molesta, Coprinus plicatilis, Inonotus hispidus, Paxillus involutus, Psathyrella candolleana and Russula fragilis were identified first time from the Kashmir.

Key words: Kashmir Himalayas, wild macrofungi, edible, medicinal.

Abstrak. Pala SA, Wani AH, Bhat MY. 2011. Enam makrofungi Basidiomycetes yang sampai sekarang belum dilaporkan dari Kashmir Himalaya. Nusantara Bioscience 3: 92-97. Lembah Kashmir terletak di ujung utara India, antara 33o20′ dan 34o54′ LU, serta 73o55′ dan 75o35′ BT. Hutan di kawasan ini mencakup lebih dari 20% luas wilayah geografis, menjadi tempat tinggal beragam spesies makrofungi karena sangat beragamnya iklim di ketinggian dan sifat alamiah dari spesies-spesies penusunnya. Flora jamur di Lembah Kashmir belum pernah didokumentasikan secara lengkap sampai sekarang. Oleh karena itu, sebuah survei sistematika untuk mengeksplorasi dan menginventarisasi spesies macrofungi dari bagian barat Kashmir Himalaya dilakukan selama tahun 2009-2010. Selama penelitian, enam spesies yaitu: Agrocybe molesta, Coprinus plicatilis, Inonotus hispidus, Paxillus involutus, Psathyrella candolleana dan Russula fragilis diidentifikasi untuk pertama kalinya dari Kashmir.

Kata kunci: Kashmir Himalaya, macrofungi liar, dimakan, obat.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment

The Palestinian mammalian fauna acquired by the zoological gardens in the Gaza Strip

Abdel Fattah N. Abd Rabou

Abstract. Abd Rabou AFN. 2011. The Palestinian mammalian fauna acquired by the zoological gardens in the Gaza Strip. Nusantara Bioscience 3: 82-91. The Gaza Strip, which is an arid strip of the Palestinian land along the southeastern Mediterranean, harbors a considerable number of mammalian fauna due to its eco-geo-strategic position. Prior to 2006, the establishment of zoological gardens in the Gaza Strip was a sort of imagination due to Israeli constraints. These constraints were nurtured by the total Israeli destruction and demolition of the Rafah and Gaza private zoological gardens in 2004 and 2009 respectively, using heavy tanks and bulldozers. The establishment of many zoological gardens following the Israeli evacuation from the Gaza Strip in late 2005 encouraged wildlife trading. Hence, the current study comes to document the Palestinian mammalian faunistic species acquired by the zoological gardens in the Gaza Strip through frequent visits to Gaza zoological gardens and meetings with local people, wildlife hunters and zoo owners. A total number of 17 Palestinian mammalian faunistic species belonging to 12 families and 5 orders was encountered in the zoological gardens throughout the study period. The encountered species represent a good mix of the families and sizes of mammals generally found in other parts of Palestine. Order Carnivora represents 52.94% of the caged mammals, while the orders Rodentia, Lagomorpha, Artiodactyla and Insectivora represent 47.06%. The study documented the first sight of the Greater Egyptian Gerbil Gerbillus pyramidis in the Gaza Strip. Local hunting, tunnel trade and delivery were the lonely sources of the mammals encountered in the zoological gardens. The economic deprivation under the current Israeli blockade and the poor implementation of environmental laws and legislations concerning wildlife protection have made wildlife trading as a common practice. Finally, The author recommends to improving the management process of Gaza zoological gardens under the care of the governmental authorities and the cooperation of the different parties in the Gaza Strip to enhance public ecological awareness to protect and conserve wildlife; especially mammals.

Key words: mammals, carnivores, zoological gardens, wildlife hunting, tunnel trade, Gaza, Palestine.

Abstrak. Abd Rabou AFN. 2011. Fauna mamalia Palestina yang dipelihara kebun binatang-kebun binatang di Jalur Gaza. Nusantara Bioscience 3: 82-91. Jalur Gaza, yang merupakan jalur tanah kering bagian negara Palestina di sepanjang tepi Laut Tengah bagian tenggara, menjadi tempat tinggal sejumlah hewan mamalia karena posisi eko-geo-strategisnya. Sebelum tahun 2006, pendirian kebun binatang di Jalur Gaza hanyalah sebuah impian karena larangan Israel. Hal ini tampak dari penghancuran dan pembongkaran seluruh kebun binatang swasta di Rafah dan Gaza oleh Israel, secara berturut-turut pada tahun 2004 dan 2009, menggunakan tank dan buldoser. Pembentukan kebun binatang banyak dilakukan setelah penarikan mundur Israel dari Jalur Gaza pada akhir tahun 2005, didorong oleh maraknya perdagangan satwa liar. Penelitian ini dilakukan untuk mendokumentasikan jenis-jenis hewan mamalia Palestina yang dipelihara oleh kebun binatang di Jalur Gaza dengan cara sering berkunjung ke kebun binatang serta pertemuan dengan masyarakat setempat, pemburu satwa liar dan pemilik kebun binatang. Sebanyak 17 jenis hewan mamalia Palestina dari 12 suku dan 5 bangsa ditemukan di kebun binatang selama periode penelitian. Jenis-jenis yang ditemukan mewakili keragaman suku dan kekayaan mamalia yang juga umum ditemukan di bagian lain Palestina. Bangsa karnivora mewakili 52,94% dari mamalia yang dipelihara, sementara bangsa Rodentia, Lagomorpha, Artiodactyla dan Insectivora mewakili 47,06%. Studi ini mendokumentasikan untuk pertamakalinya keberadaan Gerbillus pyramidis di Jalur Gaza. Perburuan lokal, perdagangan melalui terowongan dan pengiriman merupakan sumber asal mamalia di kebun binatang. Kemunduran ekonomi akibat blokade Israel dan buruknya implementasi hukum lingkungan dan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan satwa liar telah menyebabkan perdagangan satwa liar menjadi praktik yang umum dilakukan. Penulis menyarankan adanya peningkatan manajemen kebun binatang-kebun binatang di Gaza dengan bimbingan otoritas pemerintah dan kerjasama dari para pihak untuk meningkatkan kesadaran ekologi masyarakat dalam melindungi dan melestarikan satwa liar, terutama mamalia.

Kata kunci: mamalia, karnivora, kebun binatang, perburuan satwa liar, perdagangan melalui terowongan, Gaza, Palestina.

Download Full Text

Posted in Jurnal | Leave a comment