In vitro rapid multiplication of Stevia rebaudiana: an important natural sweetener herb

SHIVAJI DESHMUKH, RAVINDRA ADE

Abstract. Deshmukh S, Ade R. 2012. In vitro rapid multiplication of Stevia rebaudiana: an important natural sweetener herb. Nusantara Bioscience 4: 105-108. Stevia rebaudiana Bertoni, belonging to family Asteraceae and natural sweet plant, but due to poor seed viability, fertility and vigor, Stevia cultivation is a challenging task. In the present study in vitro rapid multiplication method was established for S. rebaudiana by inoculating explants on M.S. medium, supplemented with different combination of phytoharmone. The maximum number of shoots (18.3±0.8) was obtained on M.S. medium supplemented with BAP + KIN (1.5 + 0.5 mg/L). The highest rooting percentage (95.25) was observed with (IAA 0.1 mg/L). The rooted plants were successfully established firstly in soil with coco peat (1:1) and then directly in ordinary soil.

Key words: Stevia rebaudiana, in vitro culture, multiplication, sweetener, micropropagation.

Abbreviations: IAA: Indole-3-acetic acid, BAP: 6-Benzyl amino purine, KIN: Kinetin, GA: Gibberellic acid. NAA: 1 Naphthalene acetic acid

 

Abstrak. Deshmukh S, Ade R. 2012. Perbanyakan cepat secara in vitro Stevia rebaudiana: herbal pemanis alami yang penting. Nusantara Bioscience 4: 105-108. Stevia rebaudiana Bertoni, anggota suku Asteraceae merupakan tanaman pemanis alami, namun karena viabilitas, kesuburan dan kekuatan benih yang buruk budidaya Stevia menjadi tugas yang menantang. Dalam penelitian ini metode perbanyakan cepat secara in vitro dilakukan pada S. rebaudiana dari eksplan inokulasi pada media MS, dilengkapi dengan kombinasi fitoharmon yang berbeda. Jumlah maksimum tunas (18,3±0,8) diperoleh pada media MS dengan BAP + KIN (1,5 + 0,5 mg/L). Persentase perakaran tertinggi (95,25) diamati dengan (IAA 0,1 mg/L). Tanaman berakar berhasil ditanam pertama kali pada tanah dengan coco peat (1:1) dan kemudian langsung di tanah biasa.

Kata kunci: Stevia rebaudiana, kultur in vitro, perbanyakan, pemanis, mikropropagasi.

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Determination of ethanol in acetic acid-containing samples by a biosensor based on immobilized Gluconobacter cells

Anatoly N. Reshetilov, Anna E. Kitova, Alena V. Arkhipova, Valentina A. Kratasyuk, Mahendra K. Rai

Abstract. Reshetilov AN, Kitova AE, Arkhipova AV, Kratasyuk VA, Rai MK. 2012. Determination of ethanol in acetic acid containing samples by a biosensor based on immobilized Gluconobacter cells. Nusantara Bioscience 4: 97-100. A biosensor based on Gluconobacter oxydans VKM B-1280 bacteria was used for detection of ethanol in the presence of acetic acid. It was assumed that this assay could be useful for controlling acetic acid production from ethanol and determining the final stage of the fermentation process. Measurements were made using a Clark electrode-based amperometric biosensor. The effect of pH of the medium on the sensor signal and the analytical parameters of the sensor (detection range, sensitivity) were investigated. The residual content of ethanol in acetic acid samples was analyzed. The results of the study are important for monitoring the acetic acid production process, as they represent a method of tracking its stages.

Key words: Gluconobacter, biosensor, ethanol, acetic acid

Abstrak. Reshetilov AN, Kitova AE, Arkhipova AV,. Kratasyuk VA, Rai MK. 2012. Penentuan etanol dalam sampel yang mengandung asam asetat dengan biosensor sel Gluconobacter yang diimobilisasi. Nusantara Bioscience 4: 97-100. Sebuah biosensor berdasarkan bakteri Gluconobacter oxydans digunakan untuk mendeteksi etanol pada sampel yang mengandung asam asetat. Pengukuran dilakukan dengan elektroda Clark berdasarkan biosensor amperometrik. Uji ini diharapkan berguna untuk mengendalikan produksi asam asetat dari etanol dan menentukan tahap akhir proses fermentasi. Pengaruh pH pada stabilitas pengukuran dipelajari. Berbagai jenis larutan bufer (sitrat, Tris maleat, natrium fosfat) diuji untuk memilih varian optimal, yang merupakan bufer fosfat dengan pH dalam kisaran 6 sampai 7 unit. Sampel yang dianalisis dengan asam asetat pada konsentrasi sesuai dengan fermentasi selesai (9%) diencerkan 80 kali. Sensor tes etanol diaktifkan dalam kisaran 0,0125-2,00 mM (0,0006-0,0092%). Kandungan etanol dalam sampel komersial asam asetat dari berbagai produksi dinilai. Hasil dari penelitian ini penting untuk memantau proses produksi asam asetat, karena mereka mewakili metode pelacakan tahapannya.

Kata kunci: Gluconobacter, biosensor, etanol, asam asetat

Download full text

Neilesh Sable, Swapnil Gaikwad, Shital Bonde, Aniket Gade, Mahendra Rai©

Abstract.Sable N, Gaikwad S, Bonde S, Gade A, Rai M. 2012. Phytofabrication of silver nanoparticles by using aquatic plant Hydrilla verticilata. Nusantara Bioscience 4: 45-49.In the context of current drive to developed new green technology in nanomaterials, synthesis of nanoparticles is of considerable importance. There has been considerable work done in the field of nanoscience and Nanotechnology during the last decade due to the introduction of various protocols for the synthesis of nanoparticles by using plants and microorganisms. Here we firstly report the extracellular phytosynthesis of silver nanoparticles (Ag-NPs) using aquatic plants Hydrilla verticilata. The characterization of the phytosynthesized Ag-NPs was done with the help of UV-Vis spectroscopy, FTIR, Nanoparticle Tracking Analysis (NTA), Zeta potential and SEM. The SEM micrograph revealed the synthesis of polydispersed spherical nanoparticles, with the average size of 65.55 nm. The phytofabricated Ag-NPs can be used in the field of medicine and agriculture, due to their antimicrobial potential.

Key words: phytofabrication, Hydrilla, Ag-NPs, SEM, FTIR

Abstrak. Sable N, Gaikwad S, Bonde S, Gade A, Rai M. 2012. Fitofabrikasi nanopartikel perak menggunakan tumbuhan akuatik Hydrilla verticilata. Nusantara Bioscience 4: 45-49. Dalam konteks mendorong pengembangan teknologi hijau yang baru pada nanomaterial, sintesis nanopartikel sangat penting. Selama dekade terakhir terjadi perkembangan yang cukup pesat dalam bidang nanosains dan nanoteknologi karena diperkenalkannya berbagai protokol untuk mensintesis nanopartikel menggunakan tumbuhan dan mikroorganisme. Dalam penelitian ini, dilaporkan fitosintesis ekstraseluler nanopartikel perak (Ag-NP) menggunakan tumbuhan akuatik Hydrilla verticilata untuk pertamakalinya. Karakterisasi Ag-NP yang difitosintesis dilakukan dengan bantuan spektroskopi UV-Vis, FTIR, Analisis Pelacakan Nanopartikel (NTA), potensial Zeta dan SEM. Mikrograf SEM menunjukkan hasil sintesis nanopartikel berbentuk bulat yang tersebar, dengan ukuran rata-rata 65,55 nm. Fitofabrikasi Ag-NP dapat dimanfaatkan dalam bidang kedokteran dan pertanian, karena memiliki potensi antimikroba.

Kata kunci: fitofabrikasi, Hydrilla, Ag-NPs, SEM, FTIR


Posted in Jurnal | Leave a comment

Synthesis, characterization and physiological activity of some novel isoxazoles

VINAYSINGH J. HUSHARE, PRITHVIRAJSINGH R. RAJPUT, MANOJKUMAR O. MALPANI, NITIN G. GHODILE

Abstract. Hushare VJ, Rajput PR, Malpani MO, Ghodile NG. 2012. Synthesis, characterization and physiological activity of some novel isoxazoles. Nusantara Bioscience 4: 81-85. A series of chlorosubstituted 4-aroylisoxazoles have been synthesized by refluxing chlorosubstituted-3-aroylflavones and 3-alkoylchromone with hydroxylamine hydrochloride in dioxane medium containing 0.5 mL piperidine. Chlorosubstituted-3-aroylflavones and chlorosubstituted-3-alkoylchromone were prepared by refluxing them separately with iodine crystal in ethanol. Initially chlorosubstituted-3-aroylflavanones and 3-alkoylchromanone were prepared by the interaction of different aromatic and aliphatic aldehydes with 1-(2’-hydroxy-3’,5’-dichlorophenyl)-3-phenyl-1,3-propanedione. Constitutions of synthesized compounds were confirmed on the basis of elemental analysis, molecular weight determination, UV-Visible, I.R. and 1H-NMR spectral data. The titled compounds were evaluated for their growth promoting activity on some flowering plants viz. Papaver rhoeas, Calendula officinalise, Gladiola tristis, Gaillardia aristata,  Dianthus chinensis, and Iberis sp. (candytuft). The results indicate that applicated plants had higher shoots and more number of leaves.

 

Key words: chlorosubstituted 3-aroylflavanones, 3-alkoylchromanone, 3-aroylflavones, 3-alkoylchromone, isoxazoles.

 

Abstrak. Hushare VJ, Rajput PR, Malpani MO, Ghodile NG. 2012. Sintesis, karakterisasi dan aktivitas fisiologis beberapa isoxazoles baru. Nusantara Bioscience 4: 81-85. Serangkaian chlorosubstituted-4-aroylisoxazoles telah disintesis dengan mencampur chlorosubstituted-3-aroylflavones dan 3-alkoylchromone dengan hidroksilamin hidroklorida dalam medium dioksan yang mengandung 0.5 mL piperidine. Chlorosubstituted-3-aroylflavones dan chlorosubstituted-3-alkoylchromone dibuat dengan cara mencampur keduanya secara terpisah dengan yodium kristal dalam etanol. Awalnya, chlorosubstituted-3-aroylflavanones dan 3-alkoylchromanone dibuat melalui interaksi antara aldehida aromatik dan alifatik yang berbeda dengan 1-(2′-hidroksi-3′,5′-Dikhlorofenil)-3-fenil-1,3-propanedione. Senyawa yang terbentuk diuji berdasarkan analisis unsur, berat molekul, serta data spektrum UV-Vis, IR dan 1H-NMR. Senyawa tersebut dievaluasi aktivitas fisiologisnya dalam mendorong pertumbuhan beberapa tanaman berbunga, yaitu: Papaver rhoeas, Calendula officinalise, Gladiola tristis, Gaillardia aristata,  Dianthus chinensis, dan Iberis sp. (candytuft). Hasilnya, tanaman yang diaplikasi dengan senyawa tersebut lebih tinggi dan jumlah daunnya lebih banyak.

 

Kata kunci: chlorosubstituted 3-aroylflavanones, 3-alkoylchromanone, 3-aroylflavones, 3-alkoylchromone, isoxazoles.

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Effects of foliar application herbicides to control semi-parasitic plant Arceuthobium oxycedri

MOHAMMAD REZA KAVOSI, FERIDON FARIDI, GOODARZ HAJIZADEH

Abstract. Kavosi MR, Faridi F, Hajizadeh G. 2012. Effects of foliar application herbicides to control semi-parasitic plant Arceuthobium oxycedri. Nusantara Bioscience 4: 76-80. Epiphytes are plants growing on the stem and branches of other growing plants. Dwarf mistletoe (Arceuthobium oxycedri) is one of the important macro epiphytes or semi-parasitic plant, is able to damage Junipers and provide favorable conditions for bother damaging factors such as pest, disease, rodent animals and vulnerability to unfavorable climate conditions. In this study used herbicides in three concentrations (1.35, 1.93, 2.7 g of Roundup, 0.675, 0.964, 1.35 g of Basagran, and 0.9, 1.28, 1.8 g of Gramoxone in1000 mL water) and three replications to examine the impact of each herbicide on A. oxycedri at Junipers forests in areas located at the East Gorgan state region, North of Iran. The results from Basagran on 95.55% dwarf mistletoe indicated that the plant was dried completely up. Roundup dried 61.67% of dwarf mistletoe. Gramoxone cause the lowest percent of dryness (23.89%). By analyzing results about the impact of herbicides on percentage of measuring dryness, there is difference in level significant 1% between of herbicides. The impact of each herbicide on A. oxycedri showed that concentration-3 has more impact increasing dwarf mistletoe dryness but with concentration-2 it has less difference. Ultimately concentration-2 Basagran can be used to reduce costs in order control dwarf mistletoe.

 

Key words: herbicide, Arceuthobium oxycedri, epiphyte, dwarf mistletoe, semi-parasitic plant

 

Abstrak. Kavosi MR, Faridi M, Hajizadeh G. 2012. Pengaruh aplikasi herbisida daun untuk memgendalikan tumbuhan semi parasit Arceuthobium oxycedri. Bioscience Nusantara 4: 76-80. Epifit adalah tumbuhan yang hidup pada batang dan cabang tumbuhan lain. Benalu kerdil (Arceuthobium oxycedri) merupakan salah satu tumbuhan makro-epifit penting atau semi parasit, yang dapat merusak tanaman juniper dan mendorong hadirnya faktor perusak seperti hama, penyakit, hewan pengerat dan keretanan terhadap kondisi iklim yang tidak menguntungkan. Dalam penelitian ini, herbisida dibuat dalam tiga konsentrasi (1,35, 1,93, 2.7 g Round-up, 0,675, 0,964, 1.35 g Basagran, dan 0,9, 1,28, 1.8 g Gromoxone dalam 1000 mL air) dan tiga ulangan untuk mengetahui dampak masing-masing herbisida pada A. oxycedri di hutan juniper Gurgan Timur, Iran. Aplikasi Bazargaran pada benalu kerdil menghasilkan kematian sebesar 95,55% menunjukkan bahwa tumbuhan tersebut mengering seluruhnya. Round-up menyebabkan mengeringnya 61,67% dari benalu kerdil. Gromoxone menghasilkan persentasre pengeringan terendah (23,89%). Dengan menganalisis dampak herbisida terhadap persentase pengeringan, terdapat perbedaan pada taraf signifikansi 1% di antara herbisida. Dampak masing-masing herbisida pada A. oxycedri menunjukkan bahwa konsentrasi 3 lebih berdampak pada pengeringan benalu kerdil, namun hanya berbeda sedikit dengan konsentrasi 2. Pada akhirnya konsentrasi 2, Basagran dapat dipilih untuk mengurangi biaya dalam pengendalian benalu kerdil.

 

Kata kunci: herbisida, Arceuthobium oxycedri, epifit, benalu kerdil, semi-parasit tanaman.

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Patterns of fertility in the two Red Sea Corals Stylophora pistillata and Acropora humilis

MOHAMMED S.A. AMMAR, AHMED H. OBUID-ALLAH, MONTASER A.M. AL-HAMMADY

Abstract. Ammar MSA Obuid-Allah AH, Al-Hammady MAM. 2012. Patterns of fertility in the two Red Sea Corals Stylophora pistillata and Acropora humilis. Nusantara Bioscience 4: 62-75. Patterns of fertilities (total testes and total eggs) for the hermatypic coral Acropora humilis were lower than those in Stylophora pistillata at the four studied sites. Site 3 (El-Hamraween harbor), the site impacted with phosphate, recorded the highest annual mean of testes number and egg number in the two studied species Acropora humilis and S. pistillata. However, site 1, the site impacted with oil pollution and fishing activities, recorded the lowest annual mean of testes number, total testes, egg number and total egg for the two studied species. Thus, phosphorus enrichment seems to be considerably less destructive than oil pollution, and thus may represent an ‘eco-friendly’. Testes were observed full of sperms during winter season in the sectioned polyps of A. humilis, while eggs were detected during autumn and winter. However, the lack of eggs in S. pistillata occurred only during spring season at all the studied sites. In the studied coral species, the ova were developed first before spermeria. The breeding season of coral reefs differs in both different localities and different species extending from December to July in the northern Red Sea, Gulf of Aqaba and Southern Red Sea (the present study). While in A. humilis, the breeding season extend from February to June in the Great Barrier Reef, in the Gulf of Aqaba and in Hurghada (the present study). Tough control, public awareness and continuous shore patrolling to the activities of oil pollution and fishing activities at the vicinity of site 1 (Ras El-Behar) are urgent. Although existing corals may continue to grow and survive in an area with elevated nutrients levels, it is essential to maintain water quality on coral reefs within ecologically appropriate limits to ensure successful reproduction of coral and provide recruits for the long- term maintenance and renewal of coral populations.

 

Key words: fertility, Red Sea, corals, Stylophora pistillata, Acropora humilis

 

Abstrak. Ammar MSA Obuid-Allah AH, Al-Hammady MAM. 2012. Pola kesuburan pada dua karang dari Laut Merah Stylophora pistillata dan Acropora humilis. Nusantara Bioscience 4: 62-75. Pola fertilitas (testis total dan telur total) untuk karang hermatypic Acropora humilis lebih rendah daripada Stylophora pistillata di empat lokasi penelitian. Situs 3 (Pelabuhan El-Hamraween), lokasi yang terdampak dengan fosfat, tercatat memiliki rata-rata tahunan tertinggi jumlah testis dan jumlah telur pada dua spesies yang dipelajari A. humilis dan S. pistillata. Namun, situs 1, lokasi yang terdampak dengan pemcemaran minyak dan kegiatan penangkapan ikan, tercatat memiliki rata-rata tahunan terendah dari jumlah testis, testis total, jumlah telur dan telur total untuk dua spesies yang dipelajari. Dengan demikian, pengayaan fosfor tampaknya jauh kurang destruktif daripada pemcemaran minyak, sehingga dapat dianggap ‘ramah lingkungan’. Testis yang diamati penuh sperma selama musim musim dingin pada polip A. humilis yang dibelah, sedangkan telur terdeteksi selama musim gugur dan musim dingin. Namun, ketiadaan telur pada S. pistillata hanya terjadi selama musim semi di semua lokasi penelitian. Pada spesies karang yang diteliti, ovum terbentuk lebih dahulu sebelum spermeria. Musim perkembangbiakan terumbu karang berbeda baik katrena perbedaan lokasi maupun spesies, terjadi dari Desember hingga Juli di Laut Merah bagian utara, Teluk Aqaba dan Laut Merah bagian selatan (lokasi penelitian ini). Sementara pada A. humilis, musim perkembangbiakan terjadi dari Pebruari hingga Juni di Great Barrier Reef, Teluk Aqaba dan di Hurghada (lokasi penelitian ini). Kontrol yang ketat, kesadaran masyarakat dan patroli pantai terus menerus terhadap kegiatan pencemaran minyak dan penangkapan ikan di sekitar lokasi 1 (Tanjung Ras El-Behar) sangat mendesak. Meskipun karang yang ada dapat terus tumbuh dan bertahan hidup di daerah dengan tingkat nutrisi yang meningkat, adalah penting untuk mempertahankan kualitas air pada terumbu karang dalam batas-batas ekologis yang tepat untuk menjamin keberhasilan reproduksi karang dan memberikan sumber bibit untuk pemeliharaan jangka panjang dan pembaharuan populasi karang.

 

Kata kunci: kesuburan, Laut Merah, karang, Stylophora pistillata, Acropora humilis

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Adult mangrove stand does not reflect the dispersal potential of mangrove propagules: Case study of small islets in Lampung, Sumatra

AGUNG SEDAYU, NOVITA FARAH ISYADINYATI, DIANA VIVANTI SIGIT

Abstract. Sedayu A, Isyadinyati NF, Sigit DV. 2011. Adult mangrove stand does not reflect the dispersal potential of mangrove propagules: Case study of small islets in Lampung, Sumatra. Nusantara Bioscience 4: 57-61. Most mangrove species are dispersed by water current with distance being a major constraint. We tried to demonstrate that distance is indeed the dispersal limiting factor in mangrove, and perhaps other marine plant species. Secondly, we also tried to clarify whether landmass is a real blockade for mangrove dispersal. Lastly, we argued that in order to study plant dispersal potential, one should not study the later stage of plant population, as normally plant ecologist would do, rather at their early life stage. Cluster analyses were used to test those hypotheses and confirmed our research hypotheses.

Key words: biogeography, dispersal, mangrove, propagules.

Abstrak. Sedayu A, Isyadinyati NF, Sigit DV. 2011. Tegakan mangrove dewasa tidak mencerminkan potensi penyebaran propagul mangrove: Studi kasus pulau-pulau kecil di Lampung, Sumatera. Nusantara Bioscience 4: 57-61. Sebagian besar jenis mangrove tersebar oleh arus air dengan jarak sebagai kendala utamanya. Penelitian ini mencoba untuk menunjukkan bahwa jarak menjadi faktor pembatas dalam penyebaran mangrove, dan jenis tumbuhan pantai lainnya. Kedua, penulis juga mencoba untuk mengklarifikasi apakah daratan adalah secara nyata membatasi penyebaran mangrove. Terakhir, penulis memperdebatkan bahwa untuk mempelajari potensi dispersal tumbuhan, seseorang tidak harus mempelajari tahap akhir dari populasi tanaman, sebagaimana banyak dilakukan para ahli ekologi tumbuhan, namun dapat pula pada tahap awal kehidupannya. Analisis klaster digunakan untuk menguji hipotesis tersebut dan dikonfirmasi dengan penelitian ini.

Kata kunci: biogeografi, penyebaran, mangrove, propagul

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Antibacterial activity of Thymus vulgaris essential oil alone and in combination with other essential oils

Kateryna Kon,Mahendra Rai

Abstract. Kon K, Rai M. 2012. Antibacterial activity of Thymus vulgaris essential oil alone and in combination with other essential oils. Nusantara Bioscience 4: 50-56. Essential oils (EOs) from plants represent an alternative approach in combating antibiotic-resistant bacteria. One of the EOs with proven antibacterial properties is Thymus vulgaris EO. The purpose of the present work was to investigate in vitro antibacterial activity of T. vulgaris EO alone and in combination with other EOs. The activity of T. vulgaris EO was screened in combination with 34 EOs against Staphylococcus aureus and Escherichia coli by disk diffusion method; then the most effective combinations were evaluated by broth microdilution method. Against S. aureus the synergistic effect was found in combination of T. vulgaris and Cinnamomum zeylonicum EOs with fractional inhibitory concentration (FIC) index of 0.26; Juniperus communis and Picea abies EOs showed additive effect (FIC indexes were 0.74 and 0.78, respectively). Combination of T. vulgaris EO with Aniba rosaeodora and Melissa officinalis EOs demonstrated synergistic effect against E. coli (FIC indexes were 0.23 and 0.34, respectively); combination of T. vulgaris and Mentha piperita EOs was additive (FIC index 0.55). Therefore, combining T. vulgaris EO with other EOs has potential in further enhancing its antibacterial properties.

Key words: Thymus vulgaris, essential oils, combinations, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.

Abstrak. Kon K, Rai M. 2012. Aktivitas antibakteri minyak atsiri Thymus vulgaris tunggal atau campuran dengan minyak atsiri lain. Bioscience Nusantara 4: 50-56. Minyak atsiri tumbuhan merupakan senyawa alternatif untuk melawan bakteri resisten antibiotik. Salah satu minyak atsiri yang terbukti bersifat antibakteri adalah minyak atsiri Thymus vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas in vitro antibakteri minyak atsiri T. vulgaris tunggal atau campuran dengan minyak atsiri lain. Aktivitas antibakteri minyak atsiri T. vulgaris dan campurannya dengan 34 minyak atsiri lain terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli ditapis dengan metode cawan difusi, kemudian campuran yang paling efektif diuji dengan metode mikrodilusi kaldu. Efek sinergis terhadap S. aureus ditemukan pada campuran antara minyak atsiri T. vulgaris dan Cinnamomum zeylonicum dengan indeks konsentrasi hambat fraksional (FIC) 0,26; minyak atsiri Juniperus communis dan Picea abies menunjukkan efek aditif (indeks FIC masing-masing adalah 0,74 dan 0,78). Campuran minyak atsiri T. vulgaris dengan Aniba rosaeodora dan Melissa officinalis menunjukkan efek sinergis terhadap E. coli (indeks FIC masing-masing adalah 0,23 dan 0,34); campuran minyak atsiri T. vulgaris dengan Mentha piperita menunjukkan efek aditif (indeks FIC 0,55). Oleh karena itu, campuran minyak atsiri T. vulgaris dengan minyak atsiri lainnya memiliki potensi untuk meningkatkan sifat antibakteri.

Kata kunci: Timus vulgaris, minyak atsiri, kombinasi, Staphylococcus aureus, Escherichia coli

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Phytofabrication of silver nanoparticles by using aquatic plant Hydrilla verticilata

Neilesh Sable, Swapnil Gaikwad, Shital Bonde, Aniket Gade, Mahendra Rai

Abstract. Sable N, Gaikwad S, Bonde S, Gade A, Rai M. 2012. Phytofabrication of silver nanoparticles by using aquatic plant Hydrilla verticilata. Nusantara Bioscience 4: 45-49. In the context of current drive to developed new green technology in nanomaterials, synthesis of nanoparticles is of considerable importance. There has been considerable work done in the field of nanoscience and Nanotechnology during the last decade due to the introduction of various protocols for the synthesis of nanoparticles by using plants and microorganisms. Here we firstly report the extracellular phytosynthesis of silver nanoparticles (Ag-NPs) using aquatic plants Hydrilla verticilata. The characterization of the phytosynthesized Ag-NPs was done with the help of UV-Vis spectroscopy, FTIR, Nanoparticle Tracking Analysis (NTA), Zeta potential and SEM. The SEM micrograph revealed the synthesis of polydispersed spherical nanoparticles, with the average size of 65.55 nm. The phytofabricated Ag-NPs can be used in the field of medicine and agriculture, due to their antimicrobial potential.

Key words: phytofabrication, Hydrilla, Ag-NPs, SEM, FTIR

Abstrak. Sable N, Gaikwad S, Bonde S, Gade A, Rai M. 2012. Fitofabrikasi nanopartikel perak menggunakan tumbuhan akuatik Hydrilla verticilata. Nusantara Bioscience 4: 45-49. Dalam konteks mendorong pengembangan teknologi hijau yang baru pada nanomaterial, sintesis nanopartikel sangat penting. Selama dekade terakhir terjadi perkembangan yang cukup pesat dalam bidang nanosains dan nanoteknologi karena diperkenalkannya berbagai protokol untuk mensintesis nanopartikel menggunakan tumbuhan dan mikroorganisme. Dalam penelitian ini, dilaporkan fitosintesis ekstraseluler nanopartikel perak (Ag-NP) menggunakan tumbuhan akuatik Hydrilla verticilata untuk pertamakalinya. Karakterisasi Ag-NP yang difitosintesis dilakukan dengan bantuan spektroskopi UV-Vis, FTIR, Analisis Pelacakan Nanopartikel (NTA), potensial Zeta dan SEM. Mikrograf SEM menunjukkan hasil sintesis nanopartikel berbentuk bulat yang tersebar, dengan ukuran rata-rata 65,55 nm. Fitofabrikasi Ag-NP dapat dimanfaatkan dalam bidang kedokteran dan pertanian, karena memiliki potensi antimikroba.

Kata kunci: fitofabrikasi, Hydrilla, Ag-NPs, SEM, FTIR

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

Review: Soil solarization and its effects on medicinal and aromatic plants

 

KHALID ALI KHALID

Abstract. Khalid KA. 2012. Review: Soil solarization and its effects on medicinal and aromatic plants. Nusantara Bioscience 4: 36-44. Soil solarization or solar heating is a non-chemical disinfestation practice. Solarization effectively controls a wide range of soil borne pathogens,  insects  and  weeds.  Soil  solarization  is  based  on  the  exploitation  of the  solar  energy  for  heating  wet  soil  mulched with transparent plastic sheets to 40-55ºC in the upper soil layer. Thermal killing is the major factor involved in the pest control process, but chemical and biological mechanisms are also involved. The efficacy of the thermal killing is determined by the values of the maximum soil temperature and amount of heat accumulated (duration x temperature). The use of organic amendments (manure, crop residues) together with soil solarization (biofumigation) elevates the soil temperature by 1-3ºC, and improves pest control due to a generation and accumulation of toxic volatiles. Although cheaper than most chemicals used as soil fumigants, not all crops are worth the plastic prices, particularly in developing countries. Not all soil-borne pests and weeds are sufficiently controlled. Cheaper and more environmentally accepted  mulching  technologies  are  needed  before  expanding  the  range  of  the  controlled  pests  by  solarization. Medicinal and aromatic plant production was affected by soil solarization.

Key words: solarization, soil borne diseases, disinfestation, mulches, plastic.

Abstrak. Khalid KA. 2012. Review: Solarisasi tanah dan dampaknya pada tanaman obat dan aromatik. Nusantara Bioscience 4: 36-44. Solarisasi atau pemanasan tanah dengan matahari adalah praktek pembasmian hama dan penyakit secara non kimia. Solarisasi efektif mengendalikan  berbagai  patogen  bawaan  tanah,  serangga  dan  gulma.  Solarisasi  tanah  didasarkan  pada  pemanfaatan  energi matahari untuk  memanaskan  tanah  basah  bermulsa  dengan  lembaran  plastik  transparan  dengan  suhu  40-55ºC  pada  bagian  atas lapisan  tanah. Pembasmian dengan panas merupakan faktor utama dalam proses pengendalian hama, tetapi mekanisme kimia dan biologi juga terlibat. Efektivitas pembasmian dengan panas tergantung oleh nilai-nilai suhu tanah maksimum dan jumlah panas yang terakumulasi (durasi x suhu).  Penggunaan  penutup  organik  (pupuk  kandang,  sisa  tanaman)  bersama  dengan  solarisasi  tanah (biofumigation)  meningkatkan suhu  tanah  1-3ºC,  dan  meningkatkan  pengendalian  hama  karena  pembentukan  dan  akumulasi senyawa-senyawa  volatil  beracun. Meskipun lebih murah daripada kebanyakan bahan kimia yang digunakan sebagai fumigant tanah, tidak semua hasil panenan sepadan dengan  biaya  penyediaan  plastik,  terutama  di  negara  berkembang.  Tidak  semua  tanah  yang mengandung   hama   dan   gulma   dapat dikendalikan sepenuhnya. Teknologi mulsa yang lebih murah dan lebih ramah lingkungan diperlukan sebelum memperluas jangkauan pengendalian hama dengan solarisasi. Produksi tanaman obat dan aromatik dipengaruhi solarisasi tanah.

Kata kunci: solarisasi, tanah penyakit bawaan, disinfestation, mulsa, plastik.

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment

The total protein band profile of the green leafhoppers (Nephotettix virescens) and of the rice (Oryza sativa) infected by tungro virus

ANI SULISTYARSI, SURANTO, SUPRIYADI

 Abstract. Sulistyarsi A, Suranto, Supriyadi. 2012. The total protein band profile of the green leafhoppers (Nephotettix virescens) and of the rice (Oryza sativa) infected by tungro virus. Nusantara Bioscience 4: 32-35. Tungro virus is one of the important diseases of rice plants caused by double infection with RTBV and RTSV. One of the vectors is Nephotettix virescens Distant. The interaction between host and virus-vector still requires in-depth review. This study aimed: (i) to know the character of the total protein band profiles of rice plants infected with tungro virus and that of healthy rice plants, (ii) to know the character of the band profiles of total protein of N. virescens that consume the host rice plants infected by tungro virus and that of the healthy rice plants. Total protein band profiles of rice plants were identified using the electrophoresis method with SDS-PAGE. Sample extraction method employed buffer mercapto ethanol, while the sample extraction of green aphis employed buffer PBS IX. The painting of the protein bands employed the commasie blue ribbon. Data were analyzed descriptively based on the score of the migration of the band (Rf). The results showed that the protein content of 0.5 g of healthy leaves of rice plants was 0.567 g, whereas the protein content f 0.5 g of leaves of the rice plants infected by tungro virus was 1.011 g. The profile of protein bands on the tungro virus-infected rice plants was clearly thicker than that of the healthy rice plants. Protein bands with a higher quantity were expressed by the protein on the molecular weight of 108, and 117 kDa. Presumably these proteins are from the group of β-galactosidase, and bovine serum albumin. The function of such Proteins is still unknown, but presumably related to the plant’s responses to virus infection, because the protein did not appear in the healthy plants. The total protein content of green leafhoppers, which consumed the healthy leaves of rice plants was 0.1395 g, whereas the rice infected by tungro virus was 0.1546 g. Green leafhoppers, which consumed both healthy and tungro virus infected plants of rice showed no obvious differences on the protein expression, although it tended to be a bit thicker.

Key words: rice, tungro, Nephotettix virescens, protein banding.

Abstrak. Sulistyarsi A, Suranto, Supriyadi. 2012. Profil pita protein total wereng hijau (Nephotettix virescens) dan inang tanaman padi (Oryza sativa) yang terinfeksi virus tungro. Nusantara Bioscience 4: 32-35. Virus tungro merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi disebabkan oleh infeksi ganda RTBV dan RTSV dengan vektor antara lain, Nephotettix virescens Distant. Interaksi antara virus-inang dan vektor masih memerlukan kajian mendalam. Penelitian ini bertujuan: (i) mengetahui karakter profil pita protein total tanaman padi terinfeksi virus tungro dan tanaman padi sehat, (ii) mengetahui karakter profil pita protein total  N. virescens yang mengakuisisi inang tanaman padi terinfeksi virus tungro dan tanaman padi sehat. Profil pita protein total tanaman padi diidentifikasi menggunakan metode elektroforesis dengan SDS-PAGE. Metode ekstraksi sampel menggunakan buffer mercapto ethanol, sedangkan ekstraksi sampel wereng hijau menggunakan buffer PBS IX. Pengecatan pita protein menggunakan commasie blue. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan nilai migrasi pita (Rf). Hasil penelitian menunjukkan kadar protein 0,5 g daun tanaman padi sehat sebesar 0,567 μg, sedangkan kadar protein 0,5 g daun tanaman padi terinfeksi virus tungro sebesar 1,011 μg. Profil pita protein pada tanaman padi yang terinfeksi virus tungro jelas lebih tebal daripada pita protein di tanaman padi sehat. Pita protein dengan kuantitas lebih tinggi diekspresikan pada protein dengan berat molekul 108, dan 117 kDa. Diduga protein tersebut dari kelompok β-galaktosidase, dan bovine serum albumin. Fungsi protein tersebut belum diketahui, namun diduga ada kaitannya dengan respon tanaman terhadap infeksi virus, karena protein tersebut tidak muncul pada tanaman sehat. Kadar protein total wereng hijau yang mengkonsumsi daun tanaman padi sehat sebesar 0,1395 μg, sedangkan pada padi terinfeksi virus tungro sebesar 0,1546 μg. Wereng hijau, baik yang mengkonsumsi tanaman padi sehat maupun terinfeksi virus tungro, tidak menunjukkan perbedaan ekspresi protein jelas, meskipun cenderung lebih tebal.

Kata kunci: padi, virus tungro, wereng hijau, Nephotettix virescens, profil protein

Download full text

Posted in Jurnal | Leave a comment